Jeruk Nipis

Cerita Saja

Archive for 9 anniversary

9th Wedding Anniversary

willohart_anniv_illoBangun tidur, sama seperti tahun tahun yang lalu, bangun seperti biasa, seperti tidak ada makna apapun pada hari ini ;p

Aku dan suami emang ga pernah merayakan hut pernikahan kami, yang sering merayakan itu ya aku sendiri qqq…dengan bikin (baca pesen) kue lah, cek in dimana lah, ato nodong hadiah ;D

Tapi suamiku selalu memberiku hadiah hadiah yang dilabel sebagai kado pernikahan, walo ngasihnya ga kenal bulan apalagi tanggal *tepok jidat*

Seperti tahun ini, my hubby memberiku hadiah logam sebagai hadiah hut pernikahan yang ke 9 ini…Logam mulia ?!! Noooo, saya tak suke itu logam mulia *alaaah, ga mampu beli aja bilang ga suka*

Iya, logam, tapi ga pake embel embel mulia, karena logamnya berbentuk gantungan kunci dan flashdisk dan berlogo garuda indonesia wkwkkwk….

Jadi ceritanya tiap akhir tahun,biasalah, kantor bagi bagi suvenir gt dyeee…dan suami tau bener kalo aku demen benda bgituan, well, positifnya selama 9 tahun ini, dia benar benar telah mengenal siapa aku *wew !!*

Dititipi dua makhluk yang lucu lucu nyebelin *nah loh ?* terutama si kakak, perempuan umur 6 tahun yang sibuk mencari jati diri nya itu. Kecemburuan tingkat tinggi terhadap adik laki lakinya yang baru berumur 15 bulan itu.
Sampe sampe nuduh emaknya ga pernah menyayanginya seperti ibunya menyayangi si adik. Idiiih, rumor benjet dah, gimana mungkin anak pertama bisa ngalahin anak berikutnya, jujur dah, anak pertama is everything, the first gt loh, kecuali pada masa itu ortu nya lagi ga punya apa apa hehehe…
Tapi kembali lagi, kasih sayang itu tak bisa ditakar apa lagi disamakan, masing masing ada porsi sesuai tingkat nya masing masing, seperti kasih sayang Ilahi, takaran nya akan disesuaikan dengan amal ibadah umat Nya. *daleeeeem*
Anak gadisku adalah pengenalku akan bahagia dan akan makna kasih. Menikah satu tahun tidak berarti aku langsung merasakan sakinah mawadah wa rahmah, kalo neraka iya *wow*
Gimana ga dibilang neraka, dimana kebebasanku direnggut *tsah*
Dimana aturan suami berlaku seolah tanpa excuse terhadap istri.
Aku mendadak seperti makhluk yang tiada arti. Itu semua karena kesalahanku sendiri atas ketidakfahamanku akan agama, ketidakfahamanku akan aturan berumah tangga, ketidakfahamanku akan keIlahian.
Kesimpulannya, rumah tangga itu adalah surga dunia bila kita paham, bila kita mengikuti panduan panduanNya dan kita siap mengikuti aturan Ilahi.
Setahun 8 bulan pernikahan, Allah menitipi kami janin di rahimku, masih bukan kebahagiaan yang kurasakan, tapi malah ketakutan yang bertambah tambah, karena ketidakfahaman akan Ilahi serta aturan mainNya.
Namun, Allah membukakan rahmatNya yang luas ketika anak pertamaku lahir. Itu pertama kalinya aku merasakan kebahagiaan yang tak terhingga dalam berumah tangga.
Allah lahirkan pula bersama bayiku suatu kepasrahan dan kesabaran, suatu yang dijanjikan akan indah pada akhirat nanti.
Hari demi hari, aku terus menjalani pendidikan ku dikampus rumah tangga, dengan anakku sebagai sang dosen killer *kagak mau ngerti banget dah tu anak*
Walau pada prakteknya yang terlihat, aku lah yang mengajar anak.
Dalam mendidik anak dibutuhkan extra kesabaran yang luar biasa, kita harus memahami mereka, jangan paksa mereka memahami kita, ga akan mungkin terjadi, kecuali itu anak ajaib dan ortunya gila.
Harapanku ga muluk muluk kok dalam mendidik anak, aku dan suami tentunya ingin anakku menjadi anak yang bertaqwa. Bekal awal mengarahkan anak untuk menghafal al Qur’an, diharapkan nanti niy anak bisa nolong ortunya kalo terjadi apa apa di akhirat nanti, secara sang ortu tumbuh kembang di masa transisi, dimana melinting celana dan lengan baju pernah kami lakukan, itulah aib internasional *koprol*
Pada umumnya anakku termasuk anak yang cukup mudah diatur, asal tau clue nya, aku yang tumbuh dalam lingkungan yang tidak terbiasa lemah lembut, membuatku mendapatkan pendidikan khusus dari anak ku untuk belajar lemah lembut.
Iya, anak ku gampang diatur, asal aku mau berbicara lemah lembut bujuk rayu dan puji pujian yang indah. *berasa hidup di abad 17*
Kesalahan yang suamiku (iya, salah suami, wong aku ga stuju)  lakukan adalah menyekolahkan anakku diusia 6 tahun. Padahal kami sudah cukup faham bahwa anak di usia 0-7 tahun adalah raja, raja yang gemar bermain dan bermain.
Rasulullah saw pun sudah mencanangkannya,  0-7 tahun anak adalah raja, 7-14 tahun anak adalah tawanan, 14-21 tahun anak adalah sahabat. *syuuuuh*
Kenapa ya, kami masih saja terdikte oleh lingkungan. Kasian, temennya pada SD tapi dia masih TK, kesian sepupunya yang lebih muda uda SD tapi dia harus TK lagi….oalaaaa….nafsi nafsi kompetisi emang susah lepas dari sifat dasar manusia.
Alhasil, aku jugalah sebagai wakil dirut departemen urusan apa saja dan segalanya yang kudu menghandle si anak, mencocokkan mood nya, kapan aku bisa masuk untuk menggiringnya belajar, kapan bermain. Walau harus kuakui, fase ingin belajar nya itu hanya muncul seperti meteor jatuh, ga jelas gt loh…
Akal akalannya ya bermain sambil nyisipin pelajaran.
Iya, anak ku adalah anak yang sangat menjalani kodratnya, bukan tipe anak jenius yang umur 2 tahun sudah bisa baca, ato anak yang memahami orang tua seolah dia sudah berumur puluhan taun, ato anak yang rasa ingin taunya terhadap pelajaran tinggi banget sehingga harus cepet cepet sekolah.
Tidak, tidak sama sekali…anakku menjalani perannya sesuai kodratinya, dan dosa besarlah  aku bila harus membelokkan apalagi mengubah kodratnya sebagai anak.
Rasanya ingin sekali menambahinya dengan kursus ini dan itu seperti kumon, tapi alhamdulillah suami uda sadar, bahwa dunia anak adalah bermain, bukan berfikir…’kamu bisa diceramahin kak seto loh kalo daftarin anak kita kumon, biarinlah dia menghadapi pelajaran disekolahnya semampu dia selama ga jeblok banget !’ gt kata suami *makanyaaaaa, coba jangan sekolah duluuuu*
Tapi kita jangan jadi nenek nenek ya yang sering nyeselin sesuatu *maaf ya yang udah jadi nenek nenek*
Tapi bijak lah dalam menghadapi hal hal yang sudah terjadi dan hal hal yang akan dihadapi.
Fokus kembali ke pendidikan anak pada inti nya, yaitu pendalaman materi agama.
Iya, aku push anakku untuk melakukan kebiasaan sholat 5 waktu, membaca doa kegiatan sehari hari, membaca al Qur’an hingga menghafalnya *alhamdulillah nya anakku emang sekolah di rumah tahfidz*
Dia belajar, dan aku pun belajar, dan semakin kuat keyakinanku, bahwa anaklah sebenarnya yang  mendidik dan memperbaiki orang tuanya agar mendapat posisi terbaik di akhirat nanti…
Buahnya sudah kunikmati sedikit kemarin, tepat di usiaku yang ke 38 tahun, buah hatiku itu menghadiahiku dengan piala juara pertamanya pada lomba tahfidz pertamanya yang dia ikuti disekolah….
ya Robbi, betapa bahagia tak terkiranya aku, sujud syukur, Allah meridhoi segala jerih payah *tsaaah* dan usahaku yang kadang galak banget dalam mendidik anakku menghafal al qur’an *say thanks juga donk sama ustadzah yang ngajarin disekolah*.
Aku memang tidak mempush anakku dalam mempelajari pelajaran umum di sekolah, salah harapanlah kalo aku memaksa anakku untuk menjadi pintar pelajaran sekolah (yang berkurikulum aneh) di umurnya yang belum cocok untuk belajar.
Midtest sampe UAS pun aku tidak memaksa anakku untuk belajar, ku ajari prinsip prinsip saja dulu, bahwa setiap ujian itu berarti kita bertanding dengan diri kita sendiri, untuk mengerjakan sebaik baiknya, untuk tidak mencontek, untuk tidak terpengaruhi lingkungan sekitar, kita berlomba dengan waktu. Kecuali kite lomba lari ;p
Walau ada juga yang bertanya, apa boleh ya kita maksa anak kita untuk menghafal al qur’an gitu ? apa itu bukan suatu pemaksaaan ? Nah kalo ada yang nemu pertanyaan seperti ini, ga usah dijawab apalagi difikirin kecuali dipaksa jawab, uda bisa dipastikan yang nanya bener bener buta soal agama, yah.
Memiliki  (baca dititipi) anak adalah suatu karunia yang tak terkira, dimana membuat manusia manusia, dari yang beriman sampe yang kagak ngarti agama mengakui kehebatan seorang ibu yang hamil lalu melahirkan anak.
Teringat dulu ketika memasuki sebulan pernikahan, berdatangan pertanyaan pertanyaan, uda hamil lom ? kok belum hamil ? coba berobat ? eh, suamimu mandul kali ?
Setelah setahun pernikahan, pertanyaan berganti…eh, coba deh, diselidiki, mungkin suamimu ga cinta sama kamu jadi dia ga serius menggauli kamu ? mungkin suami mu punya wil, dan wil itu lagi hamil, jadi dia ga begitu pengen kamu hamil? *astaghfirullahal’adzim*
Rasanya kok aku merasa dihina habis habisan atas pertanyaan pertanyaan tersebut, aku menyiratkan suamiku orang yang ga bener, dan aku sangat memahami ayat bahwa wanita baik baik hanya untuk laki laki yang baik dan sebaliknya, jadi bisa disimpulkan, kalo sampe kelakuan suamiku seperti itu berarti aku ga bener donk *koprol*
Itulah salah satu kekejaman lingkungan dan paradigma (yang salah) atas ketidakfahaman masyarakat tentang agama islam, ketidakfahaman akan takdir dan aturan aturan Ilahi.
Alhamdulillah untuk hal ini aku sudah mulai faham, bahwa ilmu ilmu takdir itu tidak bisa direfleksikan secara gamblang pada setiap orang, perlu praktek dan tolak ukur *duilee, berat amir bahasanya, ampe kagak ngarti dah yang baca*
Maksudnya gini, dengan memahami apa itu takdir, ga akan muncullah pertanyaan pertanyaan macam begitu, itu sama halnya dengan menanyakan, ‘kapan siy kamu mati ? plis pliiiis, kasi tau guwe doooonk ‘*gila ga tuh*
Aku dan suami menjalani prosesi pernikahan dengan cara sesyar’i mungkin, tanpa pacaran, seperti buta akan pasangan masing masing, kami tidak saling kenal, makanan favoritnya pun aku tak tahu qqq…
Begitu pula dalam prosesi pernikahan itu sendiri, kami mencoba sesederhana mungkin tapi dengan menyediakan makanan sebanyak mungkin, mengundang anak yatim piatu, no cacap cacapan, no music, no tarian, no suvenir, no celengan ;D
Ada  milyaran perbedaan antara aku dan suami, dan kami dengan gagah perkasa ingin membuatnya seiring sejalan di tengah badai cobaan, kenapa, karena kami punya satu kesamaan , kesamaan yang kami anggap sebagai bekal yang cukup untuk menghadapi tantangan, yaitu, tujuan kami menikah adalah untuk ibadah.
Bukan untuk sebagai penanda laku niy guwe (akhirnya), ato aduh, orang pada nikah masak guwe kagak, ato guwe times up !!!
Yang paling keji itu kalo orang tua memaksa anak nya menikah tidak dengan cara yang syar’i apalagi maksa anak nikah dengan embel embel kalimat ‘tolong lah, bahagiakan kami sebagai orang tuamu nak, kalo tidak, jangan anggap kami sebagai orang tua’ …..Jiaaaa, siapa juga yang milih lu bedua jadi ortu guweeee *maaf rada sarkas ya, ini diadaptasi dari kisah seseorang bukan aku heheheh*
Dan pernikahan berakhir menjadi perceraian ato bencana yang tak henti henti.
Tidak ada yang mesti disalahkan, tapi berusaha bersama sama melakukan perbaikan diri masing masing dalam memahami agama. Kalo memang orang orang yang sudah tercetak dengan lingkungan masa lalu yang mendikte personal, itu bukan salah mereka, tapi kita anggap saja suatu kekeliruan yang telah dilakukan atas dasar terlalu mengikuti hawa nafsu sehingga gampang tergoda iblis dan antek anteknya.
Well, agama itu seperti pakaian yang sudah menyatu pada kulit kita, apart of us, jadi harus kita kenal, kita ketahui, kita fahami…orang yang mengenal dirinya maka akan mengenal Penciptanya. *aiiiih…jauh yaaaaa obrolannya*
Jadi alhamdulillah, menginjak ke usia 9 tahun pernikahan ini (diketawain dah ama yang 50 taun), sepertinya aku dan suami sudah menemukan arti sakinah mawadah warahmah itu *loh, kok langsung ending* ;D
Kembali ke masalalu, memasuki pernikahanku yang 1,5 tahun, kehamilanku yang dianggap orang orang sebagai puncak dari kawin itu tak kunjung muncul. Intervensi muncul di segala lini, sampe akhirnya dengan kepasrahanku, aku sempat meminta untuk cerai, aku mulai melakukan hitung hitungan dunia, ngapain juga nikah kalau akhirnya aku hanya menderita, coba aku ga nikah, aku sudah menyelesaikan profesi dokter ku, aku bisa bekerja sesuka hatiku dimana aku mau, aku bisa mengumpulkan uang sebanyak aku mau, aku bisa berkeliling dunia ke belahan dunia yang aku mau. *tsaaaah*
Tapi bila dikatakan kehadiran para malaikat pada ijab ijab qobul itu adalah benar adanya. Diujung jurang kehancuran rumahtangga karena berbagai intervensi, malaikat memohonkan doa doa pada Ilahi agar selamatkan rumah tangga kami….aku hamil !!! *seperti yang kubilang sebelumnya, aku bukannya hepi tapi malah galau, galau karena ga jadi keliling dunia wkwkwk*
Bentuk cinta kasih itu merapat kembali, janin itu bagaikan dempul indah pada rumah tangga kami.
Kami lulus !! Yeay ! siap melanjutkan ke jenjang berikutnya.
Lulus disini maksudnya, dalam setiap masalah, terdapat ibroh yang luar biasa.
Dari pengalaman, aku memahami, kita tidak boleh sembarang menggugat cerai, hanya karena kesal sesaat terus minta cerai, hanya karena suami tidak seperti yang kita inginkan lalu minta cerai. Ingatlah selalu kebaikan orang lain, apalagi suami. Prinsip dasarnya, manusia itu harus baik, pada tiga garis energi, vertikal yaitu Allah, horizontal yaitu manusia, dan lingkaran yaitu alam dan isinya.
Gimana bisa baik kalo inget kelakuan buruknya, nyebeliiiin banget tauuuu ?!! Iya, berat siy, tapi sebenci bencinya, kita coba inget inget, apa ya kebaikannya, bila perlu di inventaris.
Kalo ternyata emang ga ada kebaikannya sama sekali, wes, kita lihat saja bahwa dia adalah orang islam, saudara seiman kita, kenapa ? karena harga dari sesuatu laa ilaahaillallah itu adalah sangat mahal melebihi segala isi didunia ini.
Setiap muslim itu bersaudara….jadi jangan lah membenci saudara sendiri, tapi perbanyaklah tabungan memaafkan…*walo forgiven not forgotten qqq*
#cerai boleh bila sudah melanggar syariat, itupun dengan kasus kasus tertentu#
Kadang dulu aku berfikir, kenapa ya rumah tanggaku bermasalah ?
Sampai akhirnya aku menemukan kalimat, tidak ada rumah tangga yang bermasalah, yang bermasalah itu orang nya, dan kalau rumah tangga itu tidak ada masalah, itu berarti orang nya bisa dipastikan bermasalah *nah loh, ruwet dyeeee*
Jadi jangan salahkan rumah tangga, jangan sesali bila kita ternyata kebagian takdir untuk berumah tangga, tapi syukuri, karena kita sudah mendapat kursi khusus untuk menjadi umat Rasulullah saw. Dan gunakan kursi itu sebaik baiknya. Sempurnakan iman kita dengan menikah.
If there are no ups and downs in your life, it means you are dead.
Jadi bukan yang dari luar yang kita salahkan karena datang bertubi tubi tak kenal waktu, tapi diri kitalah yang kita salahkan karena tak membekal sabar dan syukur.
Percayalah, bersyukur bila mendapat kenikmatan dan bersabar bila mendapat cobaan, pandai memilah dan mensyukuri nikmat akan menjadi nikmat tersendiri dalam hidup ini.
Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kita sendiri yang mengubahnya. Dengan kata lain kita sendiri yang berusaha dengan sungguh sungguh untuk bangkit dari keterpurukan , ketidaknyamanan, dan segala nestapa. Jangan mengharapkan orang lain mangangkat kita, cukuplah orang orang tersebut menjadi pemberi suport yang tak lelah lelah dan terus membantu mendoakan kita *jangan merendahkan doa loh*
Aiiiiiih, jauh ya obrolannya…aku cuma mencoba flashback kemasa lalu, rasanya amazing bisa nyampe ke titik 9 ini, dimana akhirnya aku sudah faham keinginan suamiku dan suami pun sudah faham keinginanku, sudah tak ada batas antara aku dan suami, keterbukaan yang seterbuka bukanya *nah loh, bahasa apakah itu*
Pertengkaranpun sudah bukan pemicu perceraian lagi, tapi hanya sekedar bumbu bumbu penyedap rumah tangga, layaknya seorang kakak adik yang berantem ya tapi tetaplah saling menyanyangi satu sama lain, tak ada kebencian, tak ada rasa ingin memusuhi, yang ada hanya rasa kasih sayang, rasa untuk menolong dan menyayangi pasangan sebagaimana dia adalah makhluk Allah swt…
Itulah sakinah mawaddah wa rahmah yang sungguh mahal harga nya dalam rumah tangga…*cieee, pede bener merasa samara, gue liat ya 10 taun kedepan rumtang lo kayak apa qqqq*
Kami akan berusaha menjalani sesuai rambu rambu yang sudah dituliskan dalam Al Qur’an dan Hadist, kami akan bahu membahu dalam menjalaninya, saling menasehati dalam kesalahan dan kekeliruan, saling membimbing dalam kebenaran.
Dan aku, akan memposisikan suamiku sebagai imamku yang seutuhnya, jangan sampai ada dua matahari dalam rumah tangga *koprol*
Kadang muncul pertanyaan, jadi kamu bahagia aja tuh disuruh diem dirumah aja, ga kerja ? padahal kan kamu dokter, sayang ilmunya. Ato, eh, diakan dokter, kok ga praktek siy, bego kali dia ya, ga bisa nyuntik kayaknya qqqq..
Duhai, sekilas tuh kalimat kayaknya bener, powerful banget dah….padahal…sessaaaaat !!!
Bagaimana mungkin aku kerja diluaran sedangkan anakku diurus sama orang, muter muter donk, ini ngatur siapa ini ngurus siapa. Padahal dunia ga terlalu butuhin aku ;p  secara perekonomianpun tak mendesak.
Kecuali aku tidak punya anak, itupun kalau suami mengizinkan.
Ini jelas jelas anak dan suami membutuhkan perhatian yang super besar dari seorang ibu dan istri.
Tapi kembali lagi akan dikte lingkungan dimana sudah tertanam kebiasaan yang salah sejak puluhan tahun yang lalu akhirnya menjadi habit yang seolah olah  benar.
Dan tolong garis bawahi, menjadi ibu rumah tangga itu berat jendral, dan pahalanya hanya surga, jadi, kasihanilah wanita wanita yang bekerja diluar demi menafkahi materi anak anaknya namun tak ada nafkah bathin yang diberikan, karena waktu habis terbuang hanya untuk mengurusi orang lain.
Kadang ada juga wanita yang mengungkapkan, pusing ngurusin anak, mending kerja dikantor. Nah, inilah contoh wanita yang ga tau kodratnya trus lari dari tanggung jawab. Na’udzubillahimindzalik.
Jadi, intinya, jangan dengarkan omongan omongan yang ga bener begitu walo kadang ngiris ngiris hati, maafkan sajalah kebodohan dan ketidakfahaman mereka akan aturan Ilahi.
Kalo belum nikah, ditanya, kapan nikah ? Kalo sudah nikah akan ditanya kapan punya anak ? kalo sudah punya anak akan ditanya kapan tambah anak lagi, kok cuma 1 ? kalo sudah punya anak 10 nanti akan ditanya pula kok pada ga sekolah ? kok sekolah nya gitu aja ? kok ga ini ga itu ? teroooos, ampe  mati berdiri kalo ada yang nekat mikirin tu pertanyaaan wkwkwkwk…..
Itulah lingkungan, paling pandai menilai sekitar tapi tak pandai menilai diri sendiri.
Semoga kami dapat menjadi orang yang selalu melakukan perbaikan tanpa harus menghakimi lingkungan sekitar.
Dan berharap sangat untuk dapat menjadi contoh yang baik *tsaaaah* tanpa harus mengharapkan pengakuan apalagi ngarep piala 😀
congratulations_on_your_9th_wedding_anniversary_card-p137030087560769685envwi_400
ps : malem ini mw diner ah, makan ketoprak sama suami, cyuuuus….
Advertisements