Jeruk Nipis

Cerita Saja

Just Ten

Image

Barokallah ‘asyaro….

Advertisements

9th Wedding Anniversary

willohart_anniv_illoBangun tidur, sama seperti tahun tahun yang lalu, bangun seperti biasa, seperti tidak ada makna apapun pada hari ini ;p

Aku dan suami emang ga pernah merayakan hut pernikahan kami, yang sering merayakan itu ya aku sendiri qqq…dengan bikin (baca pesen) kue lah, cek in dimana lah, ato nodong hadiah ;D

Tapi suamiku selalu memberiku hadiah hadiah yang dilabel sebagai kado pernikahan, walo ngasihnya ga kenal bulan apalagi tanggal *tepok jidat*

Seperti tahun ini, my hubby memberiku hadiah logam sebagai hadiah hut pernikahan yang ke 9 ini…Logam mulia ?!! Noooo, saya tak suke itu logam mulia *alaaah, ga mampu beli aja bilang ga suka*

Iya, logam, tapi ga pake embel embel mulia, karena logamnya berbentuk gantungan kunci dan flashdisk dan berlogo garuda indonesia wkwkkwk….

Jadi ceritanya tiap akhir tahun,biasalah, kantor bagi bagi suvenir gt dyeee…dan suami tau bener kalo aku demen benda bgituan, well, positifnya selama 9 tahun ini, dia benar benar telah mengenal siapa aku *wew !!*

Dititipi dua makhluk yang lucu lucu nyebelin *nah loh ?* terutama si kakak, perempuan umur 6 tahun yang sibuk mencari jati diri nya itu. Kecemburuan tingkat tinggi terhadap adik laki lakinya yang baru berumur 15 bulan itu.
Sampe sampe nuduh emaknya ga pernah menyayanginya seperti ibunya menyayangi si adik. Idiiih, rumor benjet dah, gimana mungkin anak pertama bisa ngalahin anak berikutnya, jujur dah, anak pertama is everything, the first gt loh, kecuali pada masa itu ortu nya lagi ga punya apa apa hehehe…
Tapi kembali lagi, kasih sayang itu tak bisa ditakar apa lagi disamakan, masing masing ada porsi sesuai tingkat nya masing masing, seperti kasih sayang Ilahi, takaran nya akan disesuaikan dengan amal ibadah umat Nya. *daleeeeem*
Anak gadisku adalah pengenalku akan bahagia dan akan makna kasih. Menikah satu tahun tidak berarti aku langsung merasakan sakinah mawadah wa rahmah, kalo neraka iya *wow*
Gimana ga dibilang neraka, dimana kebebasanku direnggut *tsah*
Dimana aturan suami berlaku seolah tanpa excuse terhadap istri.
Aku mendadak seperti makhluk yang tiada arti. Itu semua karena kesalahanku sendiri atas ketidakfahamanku akan agama, ketidakfahamanku akan aturan berumah tangga, ketidakfahamanku akan keIlahian.
Kesimpulannya, rumah tangga itu adalah surga dunia bila kita paham, bila kita mengikuti panduan panduanNya dan kita siap mengikuti aturan Ilahi.
Setahun 8 bulan pernikahan, Allah menitipi kami janin di rahimku, masih bukan kebahagiaan yang kurasakan, tapi malah ketakutan yang bertambah tambah, karena ketidakfahaman akan Ilahi serta aturan mainNya.
Namun, Allah membukakan rahmatNya yang luas ketika anak pertamaku lahir. Itu pertama kalinya aku merasakan kebahagiaan yang tak terhingga dalam berumah tangga.
Allah lahirkan pula bersama bayiku suatu kepasrahan dan kesabaran, suatu yang dijanjikan akan indah pada akhirat nanti.
Hari demi hari, aku terus menjalani pendidikan ku dikampus rumah tangga, dengan anakku sebagai sang dosen killer *kagak mau ngerti banget dah tu anak*
Walau pada prakteknya yang terlihat, aku lah yang mengajar anak.
Dalam mendidik anak dibutuhkan extra kesabaran yang luar biasa, kita harus memahami mereka, jangan paksa mereka memahami kita, ga akan mungkin terjadi, kecuali itu anak ajaib dan ortunya gila.
Harapanku ga muluk muluk kok dalam mendidik anak, aku dan suami tentunya ingin anakku menjadi anak yang bertaqwa. Bekal awal mengarahkan anak untuk menghafal al Qur’an, diharapkan nanti niy anak bisa nolong ortunya kalo terjadi apa apa di akhirat nanti, secara sang ortu tumbuh kembang di masa transisi, dimana melinting celana dan lengan baju pernah kami lakukan, itulah aib internasional *koprol*
Pada umumnya anakku termasuk anak yang cukup mudah diatur, asal tau clue nya, aku yang tumbuh dalam lingkungan yang tidak terbiasa lemah lembut, membuatku mendapatkan pendidikan khusus dari anak ku untuk belajar lemah lembut.
Iya, anak ku gampang diatur, asal aku mau berbicara lemah lembut bujuk rayu dan puji pujian yang indah. *berasa hidup di abad 17*
Kesalahan yang suamiku (iya, salah suami, wong aku ga stuju)  lakukan adalah menyekolahkan anakku diusia 6 tahun. Padahal kami sudah cukup faham bahwa anak di usia 0-7 tahun adalah raja, raja yang gemar bermain dan bermain.
Rasulullah saw pun sudah mencanangkannya,  0-7 tahun anak adalah raja, 7-14 tahun anak adalah tawanan, 14-21 tahun anak adalah sahabat. *syuuuuh*
Kenapa ya, kami masih saja terdikte oleh lingkungan. Kasian, temennya pada SD tapi dia masih TK, kesian sepupunya yang lebih muda uda SD tapi dia harus TK lagi….oalaaaa….nafsi nafsi kompetisi emang susah lepas dari sifat dasar manusia.
Alhasil, aku jugalah sebagai wakil dirut departemen urusan apa saja dan segalanya yang kudu menghandle si anak, mencocokkan mood nya, kapan aku bisa masuk untuk menggiringnya belajar, kapan bermain. Walau harus kuakui, fase ingin belajar nya itu hanya muncul seperti meteor jatuh, ga jelas gt loh…
Akal akalannya ya bermain sambil nyisipin pelajaran.
Iya, anak ku adalah anak yang sangat menjalani kodratnya, bukan tipe anak jenius yang umur 2 tahun sudah bisa baca, ato anak yang memahami orang tua seolah dia sudah berumur puluhan taun, ato anak yang rasa ingin taunya terhadap pelajaran tinggi banget sehingga harus cepet cepet sekolah.
Tidak, tidak sama sekali…anakku menjalani perannya sesuai kodratinya, dan dosa besarlah  aku bila harus membelokkan apalagi mengubah kodratnya sebagai anak.
Rasanya ingin sekali menambahinya dengan kursus ini dan itu seperti kumon, tapi alhamdulillah suami uda sadar, bahwa dunia anak adalah bermain, bukan berfikir…’kamu bisa diceramahin kak seto loh kalo daftarin anak kita kumon, biarinlah dia menghadapi pelajaran disekolahnya semampu dia selama ga jeblok banget !’ gt kata suami *makanyaaaaa, coba jangan sekolah duluuuu*
Tapi kita jangan jadi nenek nenek ya yang sering nyeselin sesuatu *maaf ya yang udah jadi nenek nenek*
Tapi bijak lah dalam menghadapi hal hal yang sudah terjadi dan hal hal yang akan dihadapi.
Fokus kembali ke pendidikan anak pada inti nya, yaitu pendalaman materi agama.
Iya, aku push anakku untuk melakukan kebiasaan sholat 5 waktu, membaca doa kegiatan sehari hari, membaca al Qur’an hingga menghafalnya *alhamdulillah nya anakku emang sekolah di rumah tahfidz*
Dia belajar, dan aku pun belajar, dan semakin kuat keyakinanku, bahwa anaklah sebenarnya yang  mendidik dan memperbaiki orang tuanya agar mendapat posisi terbaik di akhirat nanti…
Buahnya sudah kunikmati sedikit kemarin, tepat di usiaku yang ke 38 tahun, buah hatiku itu menghadiahiku dengan piala juara pertamanya pada lomba tahfidz pertamanya yang dia ikuti disekolah….
ya Robbi, betapa bahagia tak terkiranya aku, sujud syukur, Allah meridhoi segala jerih payah *tsaaah* dan usahaku yang kadang galak banget dalam mendidik anakku menghafal al qur’an *say thanks juga donk sama ustadzah yang ngajarin disekolah*.
Aku memang tidak mempush anakku dalam mempelajari pelajaran umum di sekolah, salah harapanlah kalo aku memaksa anakku untuk menjadi pintar pelajaran sekolah (yang berkurikulum aneh) di umurnya yang belum cocok untuk belajar.
Midtest sampe UAS pun aku tidak memaksa anakku untuk belajar, ku ajari prinsip prinsip saja dulu, bahwa setiap ujian itu berarti kita bertanding dengan diri kita sendiri, untuk mengerjakan sebaik baiknya, untuk tidak mencontek, untuk tidak terpengaruhi lingkungan sekitar, kita berlomba dengan waktu. Kecuali kite lomba lari ;p
Walau ada juga yang bertanya, apa boleh ya kita maksa anak kita untuk menghafal al qur’an gitu ? apa itu bukan suatu pemaksaaan ? Nah kalo ada yang nemu pertanyaan seperti ini, ga usah dijawab apalagi difikirin kecuali dipaksa jawab, uda bisa dipastikan yang nanya bener bener buta soal agama, yah.
Memiliki  (baca dititipi) anak adalah suatu karunia yang tak terkira, dimana membuat manusia manusia, dari yang beriman sampe yang kagak ngarti agama mengakui kehebatan seorang ibu yang hamil lalu melahirkan anak.
Teringat dulu ketika memasuki sebulan pernikahan, berdatangan pertanyaan pertanyaan, uda hamil lom ? kok belum hamil ? coba berobat ? eh, suamimu mandul kali ?
Setelah setahun pernikahan, pertanyaan berganti…eh, coba deh, diselidiki, mungkin suamimu ga cinta sama kamu jadi dia ga serius menggauli kamu ? mungkin suami mu punya wil, dan wil itu lagi hamil, jadi dia ga begitu pengen kamu hamil? *astaghfirullahal’adzim*
Rasanya kok aku merasa dihina habis habisan atas pertanyaan pertanyaan tersebut, aku menyiratkan suamiku orang yang ga bener, dan aku sangat memahami ayat bahwa wanita baik baik hanya untuk laki laki yang baik dan sebaliknya, jadi bisa disimpulkan, kalo sampe kelakuan suamiku seperti itu berarti aku ga bener donk *koprol*
Itulah salah satu kekejaman lingkungan dan paradigma (yang salah) atas ketidakfahaman masyarakat tentang agama islam, ketidakfahaman akan takdir dan aturan aturan Ilahi.
Alhamdulillah untuk hal ini aku sudah mulai faham, bahwa ilmu ilmu takdir itu tidak bisa direfleksikan secara gamblang pada setiap orang, perlu praktek dan tolak ukur *duilee, berat amir bahasanya, ampe kagak ngarti dah yang baca*
Maksudnya gini, dengan memahami apa itu takdir, ga akan muncullah pertanyaan pertanyaan macam begitu, itu sama halnya dengan menanyakan, ‘kapan siy kamu mati ? plis pliiiis, kasi tau guwe doooonk ‘*gila ga tuh*
Aku dan suami menjalani prosesi pernikahan dengan cara sesyar’i mungkin, tanpa pacaran, seperti buta akan pasangan masing masing, kami tidak saling kenal, makanan favoritnya pun aku tak tahu qqq…
Begitu pula dalam prosesi pernikahan itu sendiri, kami mencoba sesederhana mungkin tapi dengan menyediakan makanan sebanyak mungkin, mengundang anak yatim piatu, no cacap cacapan, no music, no tarian, no suvenir, no celengan ;D
Ada  milyaran perbedaan antara aku dan suami, dan kami dengan gagah perkasa ingin membuatnya seiring sejalan di tengah badai cobaan, kenapa, karena kami punya satu kesamaan , kesamaan yang kami anggap sebagai bekal yang cukup untuk menghadapi tantangan, yaitu, tujuan kami menikah adalah untuk ibadah.
Bukan untuk sebagai penanda laku niy guwe (akhirnya), ato aduh, orang pada nikah masak guwe kagak, ato guwe times up !!!
Yang paling keji itu kalo orang tua memaksa anak nya menikah tidak dengan cara yang syar’i apalagi maksa anak nikah dengan embel embel kalimat ‘tolong lah, bahagiakan kami sebagai orang tuamu nak, kalo tidak, jangan anggap kami sebagai orang tua’ …..Jiaaaa, siapa juga yang milih lu bedua jadi ortu guweeee *maaf rada sarkas ya, ini diadaptasi dari kisah seseorang bukan aku heheheh*
Dan pernikahan berakhir menjadi perceraian ato bencana yang tak henti henti.
Tidak ada yang mesti disalahkan, tapi berusaha bersama sama melakukan perbaikan diri masing masing dalam memahami agama. Kalo memang orang orang yang sudah tercetak dengan lingkungan masa lalu yang mendikte personal, itu bukan salah mereka, tapi kita anggap saja suatu kekeliruan yang telah dilakukan atas dasar terlalu mengikuti hawa nafsu sehingga gampang tergoda iblis dan antek anteknya.
Well, agama itu seperti pakaian yang sudah menyatu pada kulit kita, apart of us, jadi harus kita kenal, kita ketahui, kita fahami…orang yang mengenal dirinya maka akan mengenal Penciptanya. *aiiiih…jauh yaaaaa obrolannya*
Jadi alhamdulillah, menginjak ke usia 9 tahun pernikahan ini (diketawain dah ama yang 50 taun), sepertinya aku dan suami sudah menemukan arti sakinah mawadah warahmah itu *loh, kok langsung ending* ;D
Kembali ke masalalu, memasuki pernikahanku yang 1,5 tahun, kehamilanku yang dianggap orang orang sebagai puncak dari kawin itu tak kunjung muncul. Intervensi muncul di segala lini, sampe akhirnya dengan kepasrahanku, aku sempat meminta untuk cerai, aku mulai melakukan hitung hitungan dunia, ngapain juga nikah kalau akhirnya aku hanya menderita, coba aku ga nikah, aku sudah menyelesaikan profesi dokter ku, aku bisa bekerja sesuka hatiku dimana aku mau, aku bisa mengumpulkan uang sebanyak aku mau, aku bisa berkeliling dunia ke belahan dunia yang aku mau. *tsaaaah*
Tapi bila dikatakan kehadiran para malaikat pada ijab ijab qobul itu adalah benar adanya. Diujung jurang kehancuran rumahtangga karena berbagai intervensi, malaikat memohonkan doa doa pada Ilahi agar selamatkan rumah tangga kami….aku hamil !!! *seperti yang kubilang sebelumnya, aku bukannya hepi tapi malah galau, galau karena ga jadi keliling dunia wkwkwk*
Bentuk cinta kasih itu merapat kembali, janin itu bagaikan dempul indah pada rumah tangga kami.
Kami lulus !! Yeay ! siap melanjutkan ke jenjang berikutnya.
Lulus disini maksudnya, dalam setiap masalah, terdapat ibroh yang luar biasa.
Dari pengalaman, aku memahami, kita tidak boleh sembarang menggugat cerai, hanya karena kesal sesaat terus minta cerai, hanya karena suami tidak seperti yang kita inginkan lalu minta cerai. Ingatlah selalu kebaikan orang lain, apalagi suami. Prinsip dasarnya, manusia itu harus baik, pada tiga garis energi, vertikal yaitu Allah, horizontal yaitu manusia, dan lingkaran yaitu alam dan isinya.
Gimana bisa baik kalo inget kelakuan buruknya, nyebeliiiin banget tauuuu ?!! Iya, berat siy, tapi sebenci bencinya, kita coba inget inget, apa ya kebaikannya, bila perlu di inventaris.
Kalo ternyata emang ga ada kebaikannya sama sekali, wes, kita lihat saja bahwa dia adalah orang islam, saudara seiman kita, kenapa ? karena harga dari sesuatu laa ilaahaillallah itu adalah sangat mahal melebihi segala isi didunia ini.
Setiap muslim itu bersaudara….jadi jangan lah membenci saudara sendiri, tapi perbanyaklah tabungan memaafkan…*walo forgiven not forgotten qqq*
#cerai boleh bila sudah melanggar syariat, itupun dengan kasus kasus tertentu#
Kadang dulu aku berfikir, kenapa ya rumah tanggaku bermasalah ?
Sampai akhirnya aku menemukan kalimat, tidak ada rumah tangga yang bermasalah, yang bermasalah itu orang nya, dan kalau rumah tangga itu tidak ada masalah, itu berarti orang nya bisa dipastikan bermasalah *nah loh, ruwet dyeeee*
Jadi jangan salahkan rumah tangga, jangan sesali bila kita ternyata kebagian takdir untuk berumah tangga, tapi syukuri, karena kita sudah mendapat kursi khusus untuk menjadi umat Rasulullah saw. Dan gunakan kursi itu sebaik baiknya. Sempurnakan iman kita dengan menikah.
If there are no ups and downs in your life, it means you are dead.
Jadi bukan yang dari luar yang kita salahkan karena datang bertubi tubi tak kenal waktu, tapi diri kitalah yang kita salahkan karena tak membekal sabar dan syukur.
Percayalah, bersyukur bila mendapat kenikmatan dan bersabar bila mendapat cobaan, pandai memilah dan mensyukuri nikmat akan menjadi nikmat tersendiri dalam hidup ini.
Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kita sendiri yang mengubahnya. Dengan kata lain kita sendiri yang berusaha dengan sungguh sungguh untuk bangkit dari keterpurukan , ketidaknyamanan, dan segala nestapa. Jangan mengharapkan orang lain mangangkat kita, cukuplah orang orang tersebut menjadi pemberi suport yang tak lelah lelah dan terus membantu mendoakan kita *jangan merendahkan doa loh*
Aiiiiiih, jauh ya obrolannya…aku cuma mencoba flashback kemasa lalu, rasanya amazing bisa nyampe ke titik 9 ini, dimana akhirnya aku sudah faham keinginan suamiku dan suami pun sudah faham keinginanku, sudah tak ada batas antara aku dan suami, keterbukaan yang seterbuka bukanya *nah loh, bahasa apakah itu*
Pertengkaranpun sudah bukan pemicu perceraian lagi, tapi hanya sekedar bumbu bumbu penyedap rumah tangga, layaknya seorang kakak adik yang berantem ya tapi tetaplah saling menyanyangi satu sama lain, tak ada kebencian, tak ada rasa ingin memusuhi, yang ada hanya rasa kasih sayang, rasa untuk menolong dan menyayangi pasangan sebagaimana dia adalah makhluk Allah swt…
Itulah sakinah mawaddah wa rahmah yang sungguh mahal harga nya dalam rumah tangga…*cieee, pede bener merasa samara, gue liat ya 10 taun kedepan rumtang lo kayak apa qqqq*
Kami akan berusaha menjalani sesuai rambu rambu yang sudah dituliskan dalam Al Qur’an dan Hadist, kami akan bahu membahu dalam menjalaninya, saling menasehati dalam kesalahan dan kekeliruan, saling membimbing dalam kebenaran.
Dan aku, akan memposisikan suamiku sebagai imamku yang seutuhnya, jangan sampai ada dua matahari dalam rumah tangga *koprol*
Kadang muncul pertanyaan, jadi kamu bahagia aja tuh disuruh diem dirumah aja, ga kerja ? padahal kan kamu dokter, sayang ilmunya. Ato, eh, diakan dokter, kok ga praktek siy, bego kali dia ya, ga bisa nyuntik kayaknya qqqq..
Duhai, sekilas tuh kalimat kayaknya bener, powerful banget dah….padahal…sessaaaaat !!!
Bagaimana mungkin aku kerja diluaran sedangkan anakku diurus sama orang, muter muter donk, ini ngatur siapa ini ngurus siapa. Padahal dunia ga terlalu butuhin aku ;p  secara perekonomianpun tak mendesak.
Kecuali aku tidak punya anak, itupun kalau suami mengizinkan.
Ini jelas jelas anak dan suami membutuhkan perhatian yang super besar dari seorang ibu dan istri.
Tapi kembali lagi akan dikte lingkungan dimana sudah tertanam kebiasaan yang salah sejak puluhan tahun yang lalu akhirnya menjadi habit yang seolah olah  benar.
Dan tolong garis bawahi, menjadi ibu rumah tangga itu berat jendral, dan pahalanya hanya surga, jadi, kasihanilah wanita wanita yang bekerja diluar demi menafkahi materi anak anaknya namun tak ada nafkah bathin yang diberikan, karena waktu habis terbuang hanya untuk mengurusi orang lain.
Kadang ada juga wanita yang mengungkapkan, pusing ngurusin anak, mending kerja dikantor. Nah, inilah contoh wanita yang ga tau kodratnya trus lari dari tanggung jawab. Na’udzubillahimindzalik.
Jadi, intinya, jangan dengarkan omongan omongan yang ga bener begitu walo kadang ngiris ngiris hati, maafkan sajalah kebodohan dan ketidakfahaman mereka akan aturan Ilahi.
Kalo belum nikah, ditanya, kapan nikah ? Kalo sudah nikah akan ditanya kapan punya anak ? kalo sudah punya anak akan ditanya kapan tambah anak lagi, kok cuma 1 ? kalo sudah punya anak 10 nanti akan ditanya pula kok pada ga sekolah ? kok sekolah nya gitu aja ? kok ga ini ga itu ? teroooos, ampe  mati berdiri kalo ada yang nekat mikirin tu pertanyaaan wkwkwkwk…..
Itulah lingkungan, paling pandai menilai sekitar tapi tak pandai menilai diri sendiri.
Semoga kami dapat menjadi orang yang selalu melakukan perbaikan tanpa harus menghakimi lingkungan sekitar.
Dan berharap sangat untuk dapat menjadi contoh yang baik *tsaaaah* tanpa harus mengharapkan pengakuan apalagi ngarep piala 😀
congratulations_on_your_9th_wedding_anniversary_card-p137030087560769685envwi_400
ps : malem ini mw diner ah, makan ketoprak sama suami, cyuuuus….

hola hola hola holaaaaaaa

duuuh…assalamu’alaikum dooonk…ala spanyolan sgala :p

coba itung berapa lama saya ga posting niy…(penting benjet ngitungin)

menghitung hari….hari hut penikahan …qqq…bukan apa apa cuma sebagai milestone, seberapa kuat kami sudah berlayar mengarungi samudera,  menerjang ombak…tiada takut..menempuh badai..sudah biasa…#nyanyi dweeeeh

hanya prestasi ini yg harus saya pertahankan, selain mengurus titipan Ilahi untuk dikembangkan sesuai fitrahnya…begituuuu, makanya saya jarang posting karena sibuk benjeeet (ngeles aja juara dah)

oiya, selain itu, so pasti kita terus fastabiqulkhairat yaaa (cari dewe artine)

istoqomah, poko e kalo bisa ranking satu teros dah dalam lomba kebaikan ini (kalo juara umum susah ya ngukurnya) jadi berlomba lah dgn hawa nafsu kita masing masing dan kita sdiri yang memberi label juara itu (makanya juara satu mulu, asal ga malu

Istiqomah is (still) Available here

Naaah, apa itu istiqomah ? Singkat nya istiqomah itu berarti kokoh dalam aqidah *tak tergoyahkan* dan konsisten dalam beribadah. Makna ibadah itu sendiri luas sekali ya, meninggalkan perbuatan yang ga berguna pun termasuk ibadah,  baca ketikanku ini pun bisa jadi ibadah loh ;p *masalahnya isi niy ketikan berguna ape kagak* ;p

Kalo aku pribadi udah punye rules buat diri sendiri *sangat personal* yang sudah kutancapkan kuat kuat agar tak goyah diterjang badai. *ciaaaat*

Misalnya ada yang nanya ? Ooo, jadi mba ga nonton di bioskop ? Kenapa ? Emang nonton di bioskop haram ya ?

Eeem…itu karena saiah tidak punya cukup uang buat nonton di bioskop qiqiqi…

Syukuuur, kalo ada yang langsung terima dikasih jawaban begitu. Nah, kalo yang terus terusan nanya minta penjelasan ?

Akhirnya kukisahkan lah kisah *yang tak penting* ini kepada si penanya.

Kalo ada yang mau nonton di bioskop ya silahkan, tapi kalo aku tidak. Kenapa ? Ya karena, aku ga punya waktu untuk nonton di bioskop *loh, kan ini refreshing ? emang manusia ga bole refreshing? Bole donk meluangkan waktu* Trus karena aku sayang ama duitnya *loh, kan cuma sekali sekali, emangnya terus terusan* Trus, aku fikir, aku malas nonton rame rame dalem satu gedung dengan orang orang yang gak kukenal *lah, ga cuma bioskop kok, mol dan swalayan dan resto juga banyak kan orang yang ga dikenal*

Hehe…oke oke, satu hal lagi yang harus aku ungkapkan, kalo soal nonton pelem itu, aku bukan nya sekedar suka…tapi hobi…sekali lagi HO-BI…

Kembali ke masa jahiliyah lalu ku, masa muda ku, ketika aku menyia-nyiakan waktuku dengan keluar masuk bioskop untuk refreshing setiap hari,  kenapa dibilang refrehing setiap hari ? Karena bioskop nya ada 4 studio, semua pelem yang maen di studio itu akan aku tonton tanpa liat kadar kebagusan dari film tersebut, poko e tak tonton semua..refreshiiiiing….

Kok bisa ? Itulah kenyataan yang ada, tiket nonton ku yang berupa kertas tipis  itu kukumpulkan hingga bila ditekan tingginya nyaris mencapai 30 cm *terserah maw percaya ato tidak*

Apa siy yang kuperolah dari nonton selain refreshing ? Pengetahuan tentang film, so pasti itu…tapi masalahnya, itu ga masuk dalam pertanyaan ujian akhir nanti. Dengan kesimpulan, hanya kepuasan yang sia-sia, yang membuat ku seperti meminum air laut yang asin, tak menghilangkan dahaga malah membuat haus yang bertambah-tambah.

Ketika aku sudah berkerudung pun aku belum seutuhnya bisa kembali ke fitrahku yang seutuhnya. Janji dan ingkar kukerjakan bersama sama.

Ketika umroh di tahun 2001, aku terpesona dengan ungkapan seorang dai kondang yang menjadi pembimbing umroh kami, Blio mengatakan, ‘Bila kita ingin benar benar hijrah, cobalah tinggalkan hal dunia yang paling anda sukai, tak usah banyak-banyak, satu saja dulu, dan berjanjilah untuk tidak mengulanginya lagi’.

Aku berfikir keras, apa siy yang paling aku sukai di dunia ini ? Pacar ? Duh, ga punyaaa, dan alhamdulillah ga doyan pacaran *ga laku kalleeee*  Cincin berlian ? *emak emak sekali* Sudah pasti tak suka. Hmm…selain hobi nonton, aku juga sangat hobi bernyanyi. Jadi kalo ditanya apakah aku suka menyanyi ? Jawabnya tidak, karena aku HO-BI bernyanyi.

Berputar putar rasanya fikiran dan jiwaku memikirkan untuk meninggalkan keduanya. Semata mata karena aku percaya janji Allah, berhijrah itu ganjarannya surga. Ngincer surga niy. Betapa munafiq nya aku kalo bilang tidak, walo aku tau surga itu diberikan berdasarkan rahmat Allah subhanahuwata’ala semata.

Janganlah bicara surga dulu, berharaplah untuk tidak jadi santapan api di neraka kelak. Sedekah lah yang akan melindungi diri kita dari jilatan api neraka.

Betapa asyiknya bila dulu seluruh uang yang kuhabiskan untuk nonton itu kuberikan kepada sodara sodaraku yang tak mampu. Seandainya aku telah tau…semoga Allah subhanahuwata’alaa  mengampuni dosa-dosaku. *aamiiyn*

Tapi dunia dan akhirat kan harus seimbang ? Tidak, kejarlah akhiratmu, jadikan dunia sebagai batu loncatan. Aku ga berani main hitung hitungan amal, yang hanya bisa kulakukan adalah menjalankan segala perintah Nya dan menjauhi segala laranngan Nya.

Kalo la tak begitu konsisten dalam menjalankan perintah Allah subhanahuwata’alaa, setidaknya aku akan berusaha semaksimal mungkin dan sungguh-sungguh dalam menjauhi larangan Nya.

Jadi, kutinggalkan lah kedua hobiku itu dengan berat hati. Loh, kok berat hati ? Iyalaaa….aku kan manusia !! Manusia dhaif  pula !

Tidak kah kalian bayangkan, tatkala aku dibangunkan Allah subhanahuwata’alaa untuk kembali berjuang mempertahankan apa-apa yang kemarin sudah berhasil kita pertahankan ? Setiap bangun dari tidur, mau tak mau kuucapkan alhamdulillah dengan rasa pahit getir, kapan penderitaan ini akan berakhir ? Kapan aku bisa bebas dari memegang bendera istiqomahku yang kutancapkan kuat kuat agar tak goyah apalagi lepas dihantam cobaan dunia ? Kapan ?! Sungguh, telah luka luka telapak dan jari jemariku dalam menggenggam erat erat tiang bendera istiqamahku,  terkadang rasanya letih dan ingin menyerah bila tak mengingat akan kemuliaan manusia yang bertahan hidup di dunia tanpa tergoda akan kilau semu dunia.

Maka wahai saudara saudariku, tak usalah kau beri apa apa untuk ku, cukup bantu aku, beri aku kekuatan tambahan dalam memegang tiang bendera istiqomahku.

Aku sebagai residifis, sudah pasti akan begitu gampang tergoda. Jadi, tolonglah, marilah kita saling tolong menolong dan bahu membahu dalam meraih ridho Ilahi….yuuuk…..

enjoy reminder

Demi Masa

I’tiraf

Sail over 7 Seas

Tak terasa sudah menginjak 8 tahun pelayaran kami *duile bahasanye*

Banyak suka dan duka yang telah kami lalui *ya iyalaa, batu aja ada suka dukanya*

Sudah 2 makhluk hidup yang dititipkan kepada ku kami, sepasang makhluk laksana bidadari dan bidadara.. *alamak, tamba maut dah bahasanya*

Walaupun sang bidadari akhir-akhir ini agak menjengkelkan yaaa….*secara hari ini ‘aliyah memangkas nyaris habis poninya, ga beraturan donk ? tentu sajjah ! Model cacah maricah ga jelas dah poko na* kebalikan dengan si bidadara yang sangat menggemaskan xixixi *hari ini juga my baby boy tepat 3 bulan usianya*

Apa yang harus aku ungkapkan di 8 tahun anniversary ini ? Sama aja kayak hut kemarin kemarin, terima kasih kepada Allah subhanahuwata’ala yang selalu menjaga keutuhan rumah tangga kami. Selalu diperhatikan apa apa yang menjadi kebutuhan kami, walo yang diperhatikan ini kadang suka luput dari memerhatikan sang khalik dan kadang berkelakuan kayak kucing dan anjing dalam menyikapi masalah dalam rumah tangga *hehe, bongkar aib*

Namun kembali ke pedoman dan tujuan kami dalam berumah tangga, yaitu ibadah. Ibadah yang semata-mata hanya untuk mencari ridho Ilahi.

Kalo sudah mikir ibadah, semua kekesalan dan nestapa pun larut dalam samudera kesabaran.

Istiqomah dan husnudzon *ngutip status tetangga* menjadi senjata tak terkalahkan dalam menjelajah  nyeri perih belukar kehidupan rumah tangga.

Bola itu sudah digulirkan dan permainan harus dimenangkan.

Barokallah rumah tangga kami…semoga kami dapat selalu mencinta karena Allah subhanahu wata’ala dan menciptakan sakinah mawaddah wa rahmah…

aamiiyn ya Robbal ‘aalamiiyn…

Ini tausiyah wedding anniversary nya oleh ustadz Yusuf Mansur *network*  ^_^

Surah Al Furqon 2

“(Allah) yang menciptakan segala sesuatu, lalu Dia menetapkan atasnya Qadar (ketetapan) dengan sesempurnanya.”

#peristiwa peristiwa yang terjadi di alam semesta ini, baik dari sudut kejadiannya, dalam kadar/ukuran tertentu, itulah yang dinamakan takdir.

BBG #Ngajiyuk

ps : baca cara benar menyikapi takdir

 

Kejutan Awal Tahun

Begitu banyak permohonan yang kupanjatkan di awal tahun ini. Mohon ini mohon itu, minta ini minta itu *beda mohon ama minta apa siy ?* Semoga segera diijabah *mulai dye minta cepet*

Nah, ada satu niy yang ga masuk permohonan tapi dikasih *ampe sekarang lom tau hikmahnya*, dikasih apa coba ? Ulaaaaaaaaaaaaaaaaaar…..hiiiiiiiy…..

Ceritanya menjelang buka puasa tgl 10 muharam kemaren, aku ke dapur belakang yang kebetulan emang semi terbuka ala spanyol gitu *jangan bayangin dapur spanyol disono ye, karena beda banget* untuk memanaskan sayur tauco buncis pete kesukaanku *buka puasa yang berat euy*

Setelah sekitar 3 menit berdiri memanaskan sayur itu, aku berbalik dan ..TADA !!! Aku melihat sesuatu yang gelap kehijauan, segede kelingking dengan panjang sekitar 30 cm tergeletak tak bergerak sekitar 20 cm dari telapak kakiku *oooooh*

Otomatis aku meloncat, kuharap itu tali, tapi ternyata tali ini berekor dan berkepala ulaaaaaaaaaar…oh ulaaaaaaar *sekali lagi* ulaaaaaaaaaaaaaaaaaaar…..

Aku merinding bukan kepalang, kegelian ga karu karuan, menggelinjang sana sini, dan menjerit histeris *kali ini asli bukan lebay*

Aku sempet berfikir, ini beneran ular, atau aku yang halusinansi karena hipoglikemi akibat puasa ? Ku amati dari pintu dapur, ular itu benar-benar tak bergerak. Duh, apa niy ular uda mati diinjek mba asih tadi siang, trus mba asih lupa buang ?

Trus aku inget kata kata suami ku, kalo ada ular dalam rumah, hati-hati, mungkin itu jin. dan aku pun lagsung baca jampi jampi ‘jopa japu pinjal tu mane asu’ *hehe, itu mantra warkop dink*

Aku baca aja ta’awudz dan doa pengusir jin lainnya, tapi ular itu tetap diam, tidak meledak menjadi asap lalu menghilang, tidak. *kebanyakan nonton pelem*

Akhirnya, aku pake bahasa indonesia yang baik dan benar, ‘wahai ular, kalau kau memang ular, kembali lah ke habitat mu, tapi kalau kau ular jadi jadian dari jin, musnahlah kau !’ *boo, bahasanya*

Katanya siy sambil digetok ! Duh, secara ya, liat nya aja geli maw getok pula, jadilah aku maen tunjuk-tunjuk aja ala penyihir gagal. *si ular mungkin mikir, guwa kagak ngarti lu ngomong apa, lu kata elu harry potter apa bisa ngomong ama guwa*

Lalu aku ke kamar putriku, mengajaknya ke dapur untuk membuktikan bahwa bukan cuma aku yang melihat ular itu.

“Kamu liat itu kan nak ?”

“Liat, kursi punya dedek ?”

“Duuh, bukaaan, yang dilantai itu nak, yang item itu, yang kayak ular, eh, emang ular ya…”

“Liat mi, itu ular ya ?”

“Iya nak, tapi ummi takut bunuh nya..”

“Eh, jangan dibunuh mi, dia kan mahluk Allah, kita harus baik sama dia, nanti dia baik juga sama kita.”

Booooo, plis nak, simpen deh khutbahnye, makhluk yang gimane dulu kudu dibaikin, kalo yang nyeremin dan suatu saat bisa makan kite mah ogah.

Akhirnya, aku telpon mba asih apakah tadi dia bunuh ular dan lupa buang ? Jawabannya tidak.

Saran mba asih, buang aja pake sapu. Ow nooooo…..nanti dia bergerak cepat melingkari sapu melata menuju diriku, oh, tidaaaaaaaaaak….

Lalu ku bbg grup tetangga, kuteriakan pada dunia *lebay* bahwa di rumah ku ada ular.

Dalam hitungan menit tetanggaku datang bersama asistennya, siap mengusir si ular. Eh, ternyataaa….ular nya TIDAK ADA LAGI ?!!! Ya Allah…kemana diaaaaa….plan A gagal.

Kutanya ke asisten tetanggaku, kamu pernah bunuh ular ? Belum.

Berani sama ular ? Enggak. Allamaaaaaak.

Ga usah aja dye, dari pada ntar malah dia digigt ular trus matek, lebih serem lage dah.

Tanpa sadar magrib uda lewat 5 menit, aku lom batalin puasa ! So, minum dulu dah, dan alhamdulillah uda agak tenang. *ternyata tadi histeria karena lapar yaaa*

Satu lagi tetangga dateng, menyarankan untuk menaburi jalan depan pintu dapur dengan garam. Oiyaa yaaa….garam buat proteksi ! Mengapa garam ? karena garam hipertonis dan ular hipotonis. *inget masa pramuka*

Oke, plan B sudah dilaksanakan. *ini masuk plan ga ya ?*

Cerita cerita bentar ama tetangga sebelah, kalo ular nya berwarna hijau gelap itu biasanya ular daun. Ow, bukan ular sawah atau ular air yang bisa terbang dan berbisa itu ya ?

Kalo warnanya ga gonjreng artinya tidak berbisa, dan sebaliknya. Oo iiyyaaa…*inget pramuka lagi*

Duuuh, kalo inget tadi nape ga nekat aja ya tu uler kucolek pake sapu. *udah berlalu bu, jangan kayak nenek nenek yang doyan berandai-andai* ;p

Sekarang tak tau rimbanya tu uler, sembunyi dimanakah dia ? Yang ku tau, hewan itu ya mana mau tinggal di tempat yang bukan habitatnya. Lah, kenapa ada ular di dapur yang berlantai keramik ?

Hipotesa ku ya, anak ular ini nakal, di ga nurut kata ibunya, maen jao jao, ngelayap dari daun ke daun, sampe ke daun rambat yang menjuntai ke dapur ku, scara dibelakang rumahku itu tanah kosong yang ditumbuhi sgala macam tanaman liar termasuk tanaman rambat. *nyesel kemaren ga cepet cepat ngebabat tu taneman, malah kunikmati keindahannya yang menjuntai itu* Jadinya jatoh kaaaaan, eh, ga tau ya dia jatoh atau memang memutuskan untuk tinggal bersama kami ?!! Huwaaaaaa……go, go away…hiduplah bersama kaummu ! Kami bukan pencinta ular, tidak licik seperti ular, apalagi penari ular… *ngelantur dye, belom dipatok udah ngaco*

Malam menjelang isya, tetanggaku datang lagi, meminjamkan kucing betina nya yang lagi hamil untuk diletakkan di dapur. Duuuuh, kasian kan kumil disuruh betarung ama ular.

Gapapa kata tetanggaku, kucingnya ini udah biasa nyantap apa aja, dijamin jagoan, lagi hamil pula ! Kebayangkan kalo betina lagi hamil itu gaharnya ampon amponan *guwe maksute*

Dan Plan C pun dilaksanakan. Kuintai si kumil dari balik jendela kamar aliyah, wah, bener bener profesional, gaya nya persis kopasus yang lagi jagain presiden, siaga tiga bo !! Senangnya, semoga ularnya takut, dan langsung merayap lari ke hutan belakang. *atau paling aman ya dimakan sama si kumil, kasian juga ular itu, bakal mati muda*

Suamiku pulang, “Loh, mba asih nya mana mas ?” Secara mba asih ini cukup ajaib, dia ga takut sama binatang apapun *waw* mau melata kek, melete kek, apalagi melotot *aiiih* Ampon dah, kalo aku mah paling geliiiii sama hewan melata berdarah dingin gt…serreeeem…

Maksudku supaya mba asih yang menyisir tiap sudut ruangan dapur itu mencari si anak ular. Tapi kata suami ku ga perlu, dia berani. Hah ?!! Sejak kapaaaan ? kayaknya di rumah ini cuma aku dye yang berani menghadapi yang begituan. *gosip semata* ;p

Sekitar jam 9 malam si kumil ngeong ngeong minta dibukain pintu. Loh, anda kerja sampai besok loh ! Apa tugas anda sudah kelar ? Si kumil ga perduli, dia menerobos masuk, memandang ku seolah berkata, “Kasianilah saya, saya capek banget, ingat, saya ini lagi hamil tua loh.”

Duuuh, kamu lapar yaaaa….kukasih makanan supaya si kumil mau lanjut kerja. Ternyata tidak, kumil ga mau makan dan memutuskan untuk pulang ke rumahnya *tetangga sebelah maksute* Kumil melangkah lemah lunglai menuju pintu ruang tamu. Apakah kumil sudah makan tu anak uler ya ? Duh, beneran dah tu uler mati muda. Tapi kok kayaknya enggak, malah aku curiga si kumil minta pulang karena insting kehewanannya memberikan tanda bahaya kayaknya. Walah, jangan jangan si anak uler kagak yatim piatu ! Jangan jangan malah si anak uler ini punya keluarga besar dan dia anak kesayangan serta favorit eyangnya !! Gawaaaat…may day mayday….plan C aborted and failed.

Oke, Plan D akan dilaksanakan besok oleh engkong aja *engkong adalah tukang pribadi kami yang serba bisa, halah*

Besoknya, si engkong pun datang, menyisir sudut sudut dapur dan nihil T_T

Lalu engkong membabat tanaman rambat ples pu un pu un dibelakang rumah kita.

Pesan si engkong, gapapa kok, uler nya paling uda balik ke hutan, dia ga mau tinggal di rumah kok.

Loh, kalo ternyata uler yang satu ini ga mau balik ke hutan gimana ? Karena ternyata anak uler ini sebatang kara, maka dia berkelana mencari keluarga baru yang bisa memberikannya kasih sayang ? *duile, gile aje ngadopsi uler*

Belum lagi kalo dia mencari penghidupan yang layak, bosen tinggal di hutan, pengen nya di rumah, biar bisa hidup bersih dan sehat *buuuuk, tambah lebbay dye ceritanyaaaaa*

Hehehe…gitu dye kira kira kisah heboh di 10 muharam.

Pesan moral, jangan takut sama ular, karena ular itu makhluk Allah yang kalo dibaikin dia akan baik juga. *niru khutbah aliyah niyeeee*

Gara gara ular ini, aku menggugel tips cara mengusir ular, salah satunya ada yang menceritakan kalo rumah kemasukan ular itu karena 3 hal yaitu :
1. Ada janji yang tidak saya tepati *wadoh ! janji joni kah ?*
2. Pertanda akan mendapat kekasih sejati *piye to ?!! kekasih sejati sopo iki yang bikin aku beranak duwo eee*
3. Serangan santet/ ilmu gaib. *nah, ini yang kupercaya. Tapi siapa pula yang mao nyantet niy ?*

Trus cara mengusir ular pake alat, yaitu menggunakan sebuah bambu, lalu diberi kawat dan simpul tali pada ujungnya untuk menjerat kepala dan badan ular tersebut (hanya bisa dilakukan pada ular kecil dan sedang). Alat ini di buat dengan sangat darurat, bisa juga dibuat dengan menggunakan pipa PVC seperti di artikel berikut : Snake Catcher *haruskahku memiliki alat ini ???*

Inilah salah satu resiko bila tinggal di perumahan mewah *mepet sawah* ;D sesuatu banget dyeee…

*ya ampooooon, panjang amat yak guwe becerita !!! Dasar emak emak doyan ngoceh yaaa….*